Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya saya
berkesempatan untuk bisa menyaksikan secara langsung Ritual Pencukuran Rambut Gembel. Ritual pecukuran rambut gembel sendiri
dikemas secara apik dalam sebuah agenda
bertitel Dieng Culture Festival (DCF) 2013. Pada tahun ini
penyelenggaraan DCF telah memasuki tahun ke 4. Dari seluruh rangkaian kegiatan
yang digelar sejak tanggal 29-30 Juni kemarin, acara yang menarik perhatian
paling banyak wisatawan adalah prosesi ritual pencukuran rambut gembel yang dilaksanakan
pada tanggal 30 Juni di Kompleks Candi Arjuna.
Ribuan wisatawan dari berbagai daerah serta wisatawan
mancanegara sedari pagi telah menunggu prosesi unik tersebut. Tak hanya
wisatawan, para penikmat dunia fotografi pun tak mau ketinggalan untuk mengabadikan momen unik yang hanya di gelar
setahun sekali itu. Demikian dengan saya, kali ini saya tidak akan banyak bercerita
mengenai jalan cerita prosesi tersebut melalui tulisan. Saya akan bercerita
melalui hasil bidikan kamera. Idealnya, untuk pemotretan acara seperti ini kita
sebaiknya membawa dua kamera, dimana satu kamera dengan lensa wide dan satu
kamera lagi dengan lensa tele. Atau bisa juga kita hanya menggunakan satu
kamera dengan lensa sapu jagat atau lensa dengan focal lenght mulai dari wide
hingga tele seperti lensa 18-200 mm.
Untuk prosesi ritual pencukuran rambut gembel sendiri terdiri
dari berbagai rangkaian acara mulai dari :
1.
Kirab
Yaitu
perjalanan arak-arakan menuju lokasi ritual pencukuran, yang dimulai dari rumah
sesepuh pemangku adat dan berhenti di dekat kawasan Sendang Maerokoco atau
Sendang Sedayu. Jalannya arak-arakan sendiri cukup menarik untuk dinikmati para
wisatawan, karena dalam arak-arakan tersebut turut dikawal oleh para sesepuh,
tokoh masyarakat, kelompok paguyuban seni tradisional dan masayarakat. Sedangkan
anak rambut gembel mengikuti prosesi arak-arakan tersebut dengan menaiki andong.
Untuk menangkap momen pada prosesi arak-arakan seperti ini sebaiknya kita menggunakan mode shutter priority. Dengan mode tersebut kita bisa leluasa menentukan speed kamera sesuai dengan keinginan kita, apakah kita akan menggunakan speed tinggi untuk membekukan gerakan atau bisa juga kita menggunakan speed rendah untuk membuat efek panning. Dengan mode shutter priority kita juga tidak perlu pusing memikirkan diafragma berapa yang harus kita pakai, karena kamera secara otomatis akan menentukan angka diafragma sesuai dengan speed yang kita pilih.
Penggunaan mode shutter priority akan sangat membantu Anda untuk tidak melewatkan momen, karena dalam kesempatan seperti ini momen tentunya menjadi hal yang utama. Tentunya kita semua tidak ingin melewatkan prosesi arak-arakan tanpa hasil gambar yang bagus akibat kesalahan kita sendiri karena kita ribet menggunakan mode manual agar terlihat lebih wah. Penggunaan mode manual memang tidak diharamkan, terlebih bagi yang sudah profesional tentunya mode manual bukanlah hal yang sulit tetapi bagi para pemula yang tidak ingin melewatkan momen dan pulang tanpa membawa hasil foto yang bagus maka sebaiknya kita menggunakan mode shutter priority saja, toh tak ada larangannya juga bukan.
Atau bahkan jika Anda masih bingung dengan mode shutter priority tak ada salahnya Anda menggunakan mode auto. Dengan auto Anda tak bakal melewatkan momen karena Anda tinggal menekan tombol shutter, memainkan komposisi dan angle. Tetapi yang perlu Anda ingat penggunaan mode auto tidak bisa Anda terapkan pada segala situasi, karena dengan mode auto biasanya apabila cahaya sekitar kurang memadai maka lampu blitz di kamera akan menyala secara otomatis, dan terkadang pada ritual tertentu penggunaan lampu blitz kamera sangat diharamkan.
Untuk foto arak-arakan kali ini, saya menggunakan lensa kit 18-55 mm. dengan lensa tersebut saya pun sudah bisa menangkap momen cukup banyak dengan berbagai komposisi.
2. Jamasan
Yaitu
prosesi memandikan anak rambut gembel di Sendang Maerokoco atau Sendang Sedayu.
Air jamasan untuk memandikan anak rambut gembel berupa air Kembang Tujuh Rupa
(Sapta Warna) dan air dari Tuk Bimakular, Tuk Sendang Buana (Kali Bana), Tuk
Kencen, Tuk Goa Sumur, Kali Pepek dan Tuk Sibido (Tuk Pitu).
Untuk foto-foto pada prosesi jamasan, saya lebih banyak menggunakan lensa fix 50 mm. Untuk situasi yang cukup ramai seperti ini dan ruang gerak yang terbatas, lensa 50 mm sebenarnya kurang pas digunakan, tetapi saya menggunakan lensa ini karena saya memiliki alasan lain. Yaitu karena saya tidak membawa lensa tele sehingga saya tidak bisa menangkap momen yang cukup jauh, sedangkan apabila saya menggunakan lensa kit 18-55 mm F/3.5-5.6, dengan diafragma yang dimiliki oleh lensa ini maka saya akan mendapatkan frame foto dengan banyak gangguan di dalam foto saya seperti hadirnya obyek yang tidak saya inginkan. Dengan lensa fix 50 mm maka saya bisa menggunakan bukaan besar (diafragma) seperti F/1.8 atau F/2.8 untuk mendapatkan depth of field yang saya inginkan.
![]() |
| Dengan lensa fix 50 mm F/2.8 maka orang-orang yang berdiri di depan kamera bisa saya buramkan dan menjadi frame yang menarik untuk foto-foto saya. |
![]() |
| Dengan F/2.8 maka orang-orang yang berdiri di depan kamera bisa saya buramkan dan menjadi frame yang menarik untuk foto-foto saya. |
![]() |
| Masih dengan bukaan F/2.8 kepala pengunjung yang sedikit mengganggu pun bisa saya buramkan. |
![]() |
| Lensa wide diperlukan untuk memasukkan subyek sebanyak mungkin dan menggambarkan ramainya pengu jung ritual. |
4. Tasyakuran, Doa, Ngalap Berkah dan Larungan.
Setelah pencukuran rambut gembel selesai
dilaksanakan, kemudiam dilanjutkan dengan tasyakuran dan doa. Kemudian semua
ubo rampai dibagikan kepada semua pengunjung karena ini dipercaya bisa membawa
berkah. Sedangkan Larungan menjadi proses terakhir, dimana rambut yang telah dicukur kemudian dilarung.
![]() |
| Sebelum dibagikan kepada para pengunjung, dilakukan doa bersama terlebih dahulu . |
![]() |
| Panitia pelaksana pun tak mau ketinggalan untuk turut menikmati ubo rampe yang telah dibagikan |
![]() |
| Pengunjung ritual turut mencicipi ubo rampe. |
Usai menjalani ritual cukur rambut gembel, anak-anak peserta ritual pun menjadi rebutan para pengunjung untuk berfoto bersama.
Tips memotret prosesi ritual budaya :
o Taati peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia
o Gunakanlah pakaian yang sopan
o Menjaga etika dan tata krama karena Anda adalah tamu.
o Jangan bertingkah terlalu berlebihan di lokasi ritual meskipun Anda seorang fotografer
o Gunakanlah peralatan fotografi yang sesuai dengan kebutuhan, misalnya dengan penggunaan lensa tele sehingga Anda bisa menangkap momen dari jauh tanpa mengganggu jalannya ritual.
Tuisan dan foto yang saya buat ini bukan bermaksud untuk menggurui ataupun mengajari, saya hanya ingin sekedar berbagi pengalaman saja. Terima kasih, tetaplah memotret.(Naskah dan Foto : Wahyu Jati Kusuma).






















No comments:
Post a Comment